Perkembangan emosional anak dan peran konselor

Chasia Fera Efeni(1*), Dira Yulmi(2), Syifa Ulfah(3), Rifaty Nizhomy(4), Hasnah Karimah(5), Amalia Dinung(6),

(1) Universitas Negeri Padang
(2) Universitas Negeri Padang
(3) Universitas Negeri Padang
(4) Universitas Negeri Padang
(5) Universitas Negeri Padang
(6) Universitas Negeri Padang
(*) Corresponding Author




Abstract

Emosi merupakan pengalaman efektif yang disertai penyesuaian di dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud suatu tingkah laku yang nampak  seperti gembira, bahagia, cinta, marah, takut, sedih, benci, cemas dll. Emosi pada anak sangatlah beragam, ada anak-anak yang mudah di atur, mudah beradaptasi dengan pengalaman dan teman baru, senang bermain dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan disekitarnya. Kemudian ada anak yang sulit diatur seperti sering menolak rutinitas sehari-hari, sering menangis, gelisah, jarang berpartisipasi dll. Upaya guru bimbingan dan konseling dalam meningkatkan perkembangan emosional anak yaitu dengan berperan sebagai motivator secara kontinyu yang dilakukan di dalam maupun di luar kelas. Guru bimbingan dan konseling tidak hanya sebatas membantu siswa dalam memecahkan permasalahan yang sedang dihadapinya, tetapi juga mampu mengenmangkan kualitas pribadi siswa agar mampu berkembang secara optimal, untuk itu guru bimbingan dan konseling hendaknya mampu memberikan layanan bimbingan yang mengarah pada keberhasilan perkembangan siswa baik dari aspek intelektual (akademik), emosi, spiritual dan social.


References

Ashiabi, G.S. (2000). To Improve Developing Aspect of Emotion of The Children. Departement of Child And Family Studies, University of Tennesse, Knoxville. Early Childhood Education Journal, Vol. 28, No. 2, 2000.

Beaty.(2013). Observasi Perkembangan Anak Usia Dini Edisi ke-tujuh. Jakarta: Kencana

Djohan. (2009). Psikologi Musik. Yogyakarta: Best Publisher.

EFENDI, J. O. N., & PENGEMBANGAN, N. A. D. (n.d.). Jofipasi’s Blog.

Elizabeth B. Harlock. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.

Femi Nurmalitasari. (2015). Perkembangan Sosial Emosi pada Anak Usia Prasekolah. fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada: Buletin Psikologi. Vol. 23, No. 2: 103-111.

Fitriani, A., & Hidayah, N. (2012). Kepekaan humor dengan depresi pada remaja ditinjau dari jenis kelamin. HUMANITAS: Indonesian Psychological Journal, 9(1), 76–89.

Golemen Daniel. (2002). Emotional Intellegence (terjemahan). Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Gunawan, V. (2014). Peningkatan Kemampuan Pengucapan Bahasa Inggris Melalui Metode Bernyanyi pada Anak Usia 5-6 Tahun. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 3(8).

Hakim, A. R. (2011). Pengaruh Kualitas pelayanan dan kepuasan emosional terhadap behavioral intentions (Studi Hotel Pondok Sari 2 Tawangmanggu). Universitas Sebelas Maret.

Hamid, M. A. A. (2004). EQ: panduan meningkatkan kecerdasan emosi. PTS Professional.

Ifdil, I. (2010). Pendidikan Karakter dalam Bimbingan dan Konseling. Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 10(2), 55-61.

Khasanah, I., Prasetyo, A., & Rakhmawati, E. (2011). Permainan tradisional sebagai media stimulasi aspek perkembangan anak usia dini. PAUDIA: JURNAL PENELITIAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, 1(1).

Lestari, I. (2012). Pengembangan Model Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Simulasi untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosi Siswa. Jurnal Bimbingan Konseling, 1(2).

Mirani Yunika Wati. 2013. Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosional. Skripsi, jurusan kependidikan islam fakultas ilmu tarbiah dan ilmu keguruan UIN sunan kalijaga Yogyakarta.

Mudjiran, M., Hartati, N., & Rinaldi, R. (2018). OPTIMALISASI PENGASUHAN PADA KELUARGA MISKIN DALAM RANGKA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN SUBYEKTIF ANAK DI KOTA PADANG. Jurnal RAP, 8(2), 158–169.

Nisfiannoor, M., & Kartika, Y. (2004). Hubungan antara regulasi emosi dan penerimaan kelompok teman sebaya pada remaja. Jurnal Psikologi, 2(2), 160–177.

Nugraha, Ali dkk. 2006. Materi Pokok Metode Pengembangan Sosial Emosional. Jakarta: Universita Terbuka.

Rochelle Semmel Albin.(1986). Emosi Bagaimana Mengenal Menerima dan Mengarahkannya. Yogyakarta: Kanisius.

Rosdianawati, S. (2001). Perkembangan Anak Secara Holistik Sebagai Pribadi Yang Unik. Pusat Statistik Pendidikan, Balitbang–Depdiknas. Http://www. Depdiknas. Go. id/Access, 28.

Setiawati, T., & Damaiyanti, M. (2017). Analisis Praktik Klinik Keperawatan Jiwa pada Pasien Resiko Perilaku Kekerasan dengan Terapi Inovasi Okupasi Melipat Kertas Terhadap Penurunan Gejala Marah di RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda Tahun 2017.

Sri Mulyanti. 2013. Perkembangan Psikologi Anak. Yogyakarta: laras Media Prima

Suhardita, K. (2011). Efektivitas penggunaan teknik permainan dalam bimbingan kelompok untuk meningkatkan percaya diri siswa. Edisi Khusus, 8(1), 127.

Sujono, Yuliani Nurani. 2009. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks

Sumantri, M. (2014). Perkembangan peserta didik.

Syafaruddin, S. (2017). Bimbingan dan konseling: Perspektif Al-quran dan sains Prosiding Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara. perdana.

Syahadat, Y. M. (2013). Pelatihan regulasi emosi untuk menurunkan perilaku agresif pada anak. HUMANITAS (Jurnal Psikologi Indonesia), 10(1), 19–36.

Yendi, F. M., Ardi, Z., & Ifdil, I. (2013). Pelayanan Konseling untuk Remaja Putri Usia Pernikahan. Jurnal Konseling Dan Pendidikan, 1(2), 109–114.

Yusuf. 2011. Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset

Zola, N., Ilyas, A., & Yusri, Y. (2017). Karakteristik Anak Bungsu. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 5(3), 109-114.


Full Text: PDF

Article Metrics

Abstract View : 7 times
PDF : 0 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.