Analisis tingkat pemahaman pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja

  • May 30, 2022
  • Abstract Views: 0
  • Downloads: 0
  • Page: 395-398
Corresponding Author

Abstract

Membicarakan masalah seksual adalah sesuatu yang masih dianggap tabu dan tertutup oleh masyarakat Indonesia. Hal ini menyebabkan remaja tidak mendapatkan informasi yang jelas, sehingga menimbulkan masalah seksualdikalangan remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran tentang pemahaman pendidikan kesehatan reproduksi pada siswa SMA Negeri 5 kota Pariaman. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat  deskriptif.Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 5 kota Pariaman yang berjumlah 622 siswa, sampel yang digunakan dalam penelitian ini  berjumlah 200 siswa. Berdasarkan hasil penelitian pemahaman remaja tentang pendidikan kesehatan reproduksi remajasecara umum berada pada kategori sedang (51%), pada kategori rendah  dengan persentase 41%, dan pada kategori sangat rendah  2%, sedangkan pada kategori tinggi 6%. Artinya setengah dari responden tingkat  pemahaman siswa tentang pendidikan kesehatan reproduksi berada pada kategori sedang. Sehingga diharapkan pihak sekolah melalui guru BK bertanggung jawab memberikan layanan untuk meningkatkan pengetahuan pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja.

Full Text:

References

Arikunto, S. (2005). Manajemen penelitian. Jakarta: PT Asdi Mathasatja.

BKKBN. (2019). Laporan hasil penelitian dan informasi kesehatan reproduksi remaja. https://www.bkkbn.go.id/pages/hasil-penelitian-bkkbn. Diakses 5 Februari 2020 Pukul 11.57 WIB .

Creswell, J. W. (2009). Research design qualitative, quantitative and mixed methods approach. Sage Publications.

Elida. (2006). Psikologi remaja. Padang: UNP Padang.

Ernawati, H. (2018). Pengetahuan kesehatan reproduksi remaja di daerah pedesaan. Indonesia Journal For Health Sciences, 02(01), 58–64.

Hanifah. (2000). Faktor yang mendasari hubungan seks pranikah remaja.http://pendidikanseks.blogspot.com. Diakses 19 Februari 2020. Pukul 10.30 WIB.

Helmi, A. F., Paramastri, I., & Mada, U. G. (2018). Efektivitas pendidikan seksual dini perilaku seksual sehat. Journal Psikologi (2), 25–34.

Martono, H. (2019). Usaha pencegahan dalam penanggulangan problem seksualitas dan fertilitas remaja. Jakarta: Rajawali.

Mudjiran. (2007). Perkembangan peserta didik. Padang: UNP Press.

Mudjiran. (2016). Pengetahuan kesehatan reproduksi. Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling, 2(1), 69-84.

Mustari, N. (2019). Disfungsi pendidikan seks pada keluarga korban kekerasan seksual. Jurnal psikologi dan Pendidikan Konseling, 2(1), 1-15.

Prayitno. (2006). Spektrum dan keprofesian pelayanan profesi konseling. Padang: FIP Universitas Negeri Padang.

Prasetyo, B & Jannah, L. M. (2012) Metode penelitian kuantitatif teori dan aplikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Putro, K. Z. (2017). Memahami ciri dan tugas perkembangan masa remaja. Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama,17, 25–32.

Ramadhan, S. (2019). Pendidikan orang tua tentang pola pendidikan seks pada anak usia akhir. Jurnal Psikologi, 2(4), 24-68.

Saragi, M. P. D., Iswari, M., & Mudjiran (2016). Kontribusi konsep diri dan dukungan orang tua terhadap motivasi belajar siswa dan implikasinya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Ejournal.unp.ac.id 5(1), 1–14.

Sarwono, S. W. (2016). Pergeseran norma perilaku seksual kaum remaja. Jakarta: Rajawali.

Sarwono, S. W. (2006). Psikologi remaja. Jakarta: PT Rajawali Press.

Sarwono, S. W. (2011). Psikologi remaja. edisi revisi. Jakarta: Rajawali Pers.

Sugiyono. (2014). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sudjana. (2006). Metode statistik. Jakarta: Rineka Cipta.

Suwarni, L. (2009). Monitoring parental dan perilaku teman sebaya terhadap perilaku seksual remaja. Jurnal Promosi Kesehatan Kesehatan Indonesia 4(2), 127-133.

Syahrial, Arial, & Kurniawan, D. K. (2019). E-modul etnokontruktivisme ditinjau dari persepsi, minat dan motivasi. Journal.unj.ac.id/index.php/jtp.

Tobing, N. L. (1992). Masalah seks dikalangan remaja. Jakarta: Pustaka Kartini.

UNESCO. (2009). International technical guidance on sexuality education : An evidence-informed approach for schools, teachers and health educators. UNESCO (Vol. I) . Paros. Retrieved from https://www.jstor.org/stable/pdf/25681359.pdf?refreqid=excelsior%3A109ae30q0dd73e9e60b7de2bd71feb4b. Diakses tanggal 19 Februari 2020. Pukul 10.50 WIB.

Wardhani, D. T. (2012). Perkembangan dan seksualitas remaja (development and adolescent sexuality). Ejournal Kemsos, 17(03), 184-191.

Wijayanti, D. (2009). Fakta penting seputar kesehatan reproduksi wanita. Yogyakarta: Nuha Medika.

World Health Organization. Seks education. Geneva: WHO Press 2006.

Wulandari, V. F., Nirwana, H., & Nurfarhanah. (2012). Pemahaman siswa mengenai kesehatan reproduksi remaja melalui layanan informasi. KONSELORJurnal Ilmiah Konseling, 2 (1) , 1–9.

Zamroni, E., &Rahardjo, S. (2017). Manajemen bimbingan dan konseling berbasis permendikbud nomor 111 Tahun 2014. Jurnal Konseling Gusjigang, 1(1), 1–11.

Zubaidah, S. (2016). Pentingnya pendidikan seks pada anak usia dini.Ejournal, 3(1), 27-31.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.