Pembentukan kematangan karir pemuda minangkabau melalui budaya baliak ka surau

Aulia Latifa(1), Firman Firman(2), Riska Ahmad(3),
(1) Pasca Sarjana Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Padang  Indonesia
(2) Pasca Sarjana Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Padang  Indonesia
(3) Pasca Sarjana Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Padang  Indonesia

Corresponding Author
Copyright (c) 2021 Aulia Latifa, Firman Firman, Riska Ahmad

DOI : https://doi.org/10.23916/08748011

Full Text:    Language : en

Abstract


Remaja memiliki beberapa tugas perkembangan, diantaranya yaitu memilih dan merencanakan karir, apabila remaja mampu menyelesaikan tugas tersebut maka dianggap telah mencapai kematangan karir. Banyak faktor yang mempengaruhi kematangan karir pada individu, salah satunya yaitu faktor eksternal berupa lingkungan sosial budaya. Suku Minangkabau dikenal budaya tinggal di surau bagi pemuda. Surau di Minangkabau selain memiliki fungsi sebagai tempat beribadah namun juga juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan islam tradisional tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan intelektual namun juga untuk membentuk karakter dan kepribadian pemuda Minangkabau melalui kegiatan belajar agama, nilai-nilai kehidupan, bersilat, keterampilan berkomunikasi. Kemudian pada akhir tahun 50-an, eksistensi surau di Minangkabau mulai menurun dikarenakan terjadi pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat yang menimbulkan trauma psikologis bagi masyarakat Minangkabau sehingga mulai meninggalkan identitas Minangnya, salah satunya budaya tinggal di surau. Ketika zaman reformasi, melalui UU No. 22 Tahun 1999 Minangkabau kembali menggalakkan budaya tinggal di surau dengan gerakan Baliak ka Surau. Dimana dalam teknis pelaksanaannya direlevansikan dengan kemajuan zaman di abad ke-21 ini. Kajian ini menggunakan metode kepustakaan (library research). Tujuan dari tulisan ini yaitu menyajikan analisis kematangan karir pemuda di Minangkabau melalui Budaya Baliak ka Surau. Budaya Baliak ka surau perlu kita lestarikan mengingat kompleksnya fungsi dan manfaat surau bagi pemuda Minangkabau.

References


Azra, A. (2003). Surau: Pendidikan Islam Tradisi dalam Transisi dan Modernisasi. Jakarta: Tim ICCE UIN Jakarta.

Latif, N. (2002). Etnis dan Adat Minangkabau: Permasalahan dan Hari Depannya. Bandung: Angkasa.

Listyowati, A., Andayani, tri rejeki, & Karyanta, nugraha arif. (2012). Hubungan antara Kebutuhan Aktualisasi Diri dan Dukungan Sosial dengan KematangAn Karir pada Siswa Kelas XII SMa 2 Klaten.

Munandir. (1996). Program Bimbingan Karir di Sekolah. Jakarta: Depdikbud Direktoral Jendral Pendidikan Tinggi.

Nurillah, S. A. L. (2017). Program Bimbingan Karir untuk Meningkatkan Kematangan Karir Mahasiswa. Jurnal Inovasi Konseling, 1, 67–85.

Sastrawati, W. U., Kadek, N., Purwanti, C., Suhardita, K., Sapta, I. K., Komang, N., … Bali, I. P. (2019). Efektivitas Konseling Behavioral Model Krumboltz untuk Mengembangkan Keputusan Karir Siswa, 4(2), 63–67.

Siti S. Fadhilah, R. N. (2010). Model Bimbingan Pengembangan untuk Meningkakan Kematangan Karier Mahasiswa. Pedagogia, (2), 85–102.

Syafri, S. (2004). Minangkabau yang Gelisah. Bandung: CV. Lubuk Agung.

UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Winkel, W. S. (1997). Bimbingan dan Konseling di Instituti Pendidikan. Jakarta: PT. Grasindo.

Yahya, A., Maalip, H., & Omar, M. H. (2011). Permasalahan Yang Mempengaruhi Pembelajaran dan Pencapaian Akademik Pelajar Bumiputra ( Tingkatan 4 ) di Sekolah Menengah Teknik di Johor Bahru. Journal of Education Psychology and Counseling, 2(Tingkatan 4), 1–27.


Article Metrics

 Abstract Views : 0 times
 PDF Downloaded : 0 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Aulia Latifa, Firman Firman, Riska Ahmad

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.