Normative examination of the considerations of pre-trial judge on distortion of the value of the instruments of evidence

Abstract

Currently there is a pretrial decission No.5/Pid.Pre/2018/PN BTM which cancels the determination of the suspect with the consideration that the evidence for the determination of the suspect has been distorted by the investigation period which is considered too long, it’s necessary to analyze the construction flow of the judge's legal considerations and normative juridical examination as well as the legal consequences of the decission against the investigator. This research used descriptive analytical method using a normative approach (legal research) to obtain secondary data and an empirical approach (juridical sociological) to obtain primary data through observation (observation). The results showed that pretrial judges form a new legal method regarding the distorted value of evidence based on the period of investigation in which this consideration was no longer on the assessment of formal aspects, from this decission Investigators if they want to re-determine someone as a suspect must use two different pieces of new evidence. For this reason, the Supreme Court is expected to establish special rules regarding mechanisms and clear boundaries for pretrial judges in establishing the rule of law, besides that a clear definition of deviant and/or fundamentally deviant decissions is needed and the annulling mechanism to anticipate legal smuggling.
Keywords
  • Consideration of Pretrial Decission
  • Distortion of Evidence Value
  • PERMA Number 4 of 2016
References
  1. Anshori, A. G. (2018). Filsafat hukum. Ugm Press.
  2. Firdaus, S. R., Yuningsih, H., & Adisti, N. A. (2022). Pelaksanaan Pemulihan Nama Baik Tersangka Oleh Pihak Kepolisian Terhadap Tidak Sahnya Penetapan Tersangka Yang Ditetapkan Melalui Praperadilan (Studi Kasus Kepolisian Daerah Sumatera Selatan). Sriwijaya University.
  3. Hamzah, A. (2019). Hukum Acara Pidana Indonesia (Edisi 2). Sinar Grafika.
  4. Hamzah, A., & Surachman, R. M. (2015). Pre-trial justice & discretionary justice dalam KUHAP berbagai negara. Sinar Grafika.
  5. Kaifa, R. P. (2021). Praperadilan dan Prosedur Penyidikan Penyidik Pegawai Negeri Sipil. Jurnal Hukum Pidana Dan Kriminologi, 2(1), 52–72.
  6. Kripsiaji, D., & Minarno, N. B. (2022). Perluasan Kewenangan dan Penegakan Hukum Praperadilan di Indonesia dan Belanda. Al-Mazaahib: Jurnal Perbandingan Hukum, 10(1), 29–56.
  7. Linggama, S. (2018). Pelaksanaan Pemeriksaan Praperadilan Berkaitan dengan Masalah Penahanan Bagi Tersangka Oleh Penyidik Menurut UU No. 8 Tahun 1981. Lex Crimen, 7(5).
  8. Marbun, R. (2021). Trikotomi Relasi dalam Penetapan Tersangka: Menguji Frasa “Pemeriksaan Calon Tersangka” Melalui Praperadilan. Undang: Jurnal Hukum, 4(1), 159–190.
  9. Menkes, R. I. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Departeman Kesehatan Republik IndonesiaI, 3(11).
  10. Miles, C. (2013). Persuasion, marketing communication, and the metaphor of magic. European Journal of Marketing, 47(11/12), 2002–2019.
  11. Mulyadi, L. (2012). Hukum Pidana Umum dan Khusus Indonesia dalam Teori dan Praktek. Bandung: Alumni.
  12. Posner, R. A. (2014). Economic Analysis of Law: Four Edition. Little, Brown and Company, UK.
  13. Pratama, M. (2021). Tinjauan Yuridis Praperadilan Atas Penetapan Tersangka Pada Tindak Pidana Penipuan Dan Penggelapan (Studi Kasus Putusan Praperadilan Nomor : 5/Pid.Pra/2018/Pn. Mks). Universitas Hasanuddin.
  14. Rajagukguk, S. B. T., Rozah, U., & Cahyaningtyas, I. (2019). Analisis Yuridis Normatif Peninjauan Kembali Oleh Jaksa Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 33/Puu-Xiv/2016 Tentang Uji Materi Pengujian Pasal 263 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana. Diponegoro Law Journal, 8(3), 2342–2366.
  15. Siar, P. R. (2019). Politik Hukum Praperadilan Dalam Rangka Penegakan Hukum Pasca Keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi No. 98/Puu-X/2012. Lex Administratum, 7(1).
  16. Siregar, C. F. (2018). Kewenangan Hakim Memerintahkan Penetapan Tersangka Tindak Pidana Melalui Pemeriksaan Praperadilan (Analisis Putusan Praperadilan Nomor24/Pid/Pra/2018/PN. Jaksel).
  17. Situmorang, M. (2018). Kedudukan Hakim Komisaris Dalam RUU Hukum Acara Pidana. Jurnal Penelitian Hukum De Jure, 18(4), 433–444.
  18. Sopinah, D. (2021). Kedudukan Akta Notaris Sebagai Alat Bukti Dalam Perkara Pidana Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Studi Kasus Pada Perkara Nomor 55/Pid. Fakultas Hukum Universitas Pasundan.
  19. Sumadi, R. (2021). Praperadilan Sebagai Sarana Kontrol Dalam Melindungi Hak Asasi Manusia (HAM) Tersangka. Jurnal Hukum Sasana, 7(1).
  20. Tornado, A. S., SH, M. H., & Kn, M. (2019). Praperadilan: Sarana Perlindungan Tersangka dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia. Nusamedia.
  21. Washington, E. T. (2016). State courts and the promise of pretrial justice in criminal cases. NYUL Rev., 91, 1087.